TELUK KUANTAN - informasipublik.co.id Berkah Aura Farming benar-benar menarik perhatian dunia dengan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Riau, untuk menyaksikan puncak helat akbar budaya Pacu Jalur yang baru saja digelar beberapa hari lalu.
Berdasarkan data salah satu agen perjalanan online "AGoDA", mengungkapkan terjadi lonjakan kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Lonjakan perjalanan domestik sendiri meningkat 35 persen, sementara mancanegara melonjak 13 persen. Lonjakan ini terjadi berkah dari Aura Farming Pacu Jalur yang viral di platform media sosial terutama di tiktok.
Media sosial ini, berperan penting sebagai faktor utama meningkatnya jumlah wisatawan berkunjung ke Kuansing, melalui Pekanbaru, yang merupakan pintu satu-satunya perjalanan udara bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Melonjaknya perjalanan domestik menuju Pekanbaru, menunjukkan antusiasme wisatawan dalam negeri. Begitu juga dengan perjalanan internasional ke Pekanbaru.
Peningkatan ini menunjukkan keberhasilan promosi budaya lokal yang memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Pekanbaru, khususnya Kuansing.
Seperti perhotelan, transportasi, kuliner, dan sektor-sektor lainnya, merasakan dampak secara langsung dari kunjungan wisatawan yang datang ke Riau.
Berdsarkan data AGoDA terbaru terjadi tren positif ini. Berdasarkan analisis pencarian akomodasi antara 1 Mei hingga 15 Juli 2025 lalu. Untuk periode check-in dari 1 Juli hingga 30 September 2025.
Tercatat adanya kenaikan total pencarian sebesar 33% dibandingkan tahun sebelumnya atau year to year.
Disisi lain, di luar data AGoDA potensi ini, mesti dimanfaatkan masyarakat lokal sebaik mungkin untuk membuat wisatawan kembali rindu datang ke Kuansing.
Terutama keramahan masyarakat lokal bisa menjadi daya tarik atau magnet tersendiri bagi perjalanan domestik maupun mancnegara. Ke depan, pemerintah daerah mesti memantau prilaku masyarakat lokal, selama Pacu Jalur dengan membentuk Satgas untuk menyisir rumah makan dan Ampera nakal.
Langkah ini, perlu disiasati dari awal, agar tidak terjadi kesenjangan masalah harga selama pelaksanaan Pacu Jalur, karena hal ini dapat menjadi preseden buruk di mata Wisatawan bahkan hanya hitungan dektik sudah viral di platform media sosial.
Preseden buruk ini, tidak hanya dirasakan wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan masyarakat lokal juga merasakan harga yang ditetapkan secara ugal-ugalan. Ini mesti menjadi catatan penting ke depannya bagi pemerintah daerah.*** (Red



Social Header